Senin, 12 November 2012

Mean What you say and say what you mean

Dialog TVRI kali ini menarik,, tentang magneto gubernur dki jokowi. Bagaimana sikap dan tindakannya sesuai dan komitmennya untuk berusaha memenuhi janji-janji semasa kampanye. Tanpa perlu polesan jokowi mampu menarik simpati masyarakat jakarta yang tadinya ogah-ogahan berpartisipasi dalam pemilihan. Salah satu pembicara mengutarakan pendapat bahwa, jokowi mempunyai salah satu kriteria seorang pemimpin, yaitu "you say what you mean and you mean what you say". Salah satu kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan sesuai. Kita sering berpikir tentang keterampilan berkomunikasi dari sudut pandang umum: konferensi pers, wawancara, atau pidato, tetapi beberapa dari komunikasi yang paling penting sering terjadi pada komunikasi antara atasan dan karyawan, rekan kerja, keluarga dan teman Meskipun yang terjadi berbeda dalam setiap situasi, kebanyakan konflik dan perselisihan antara audience terjadi karena kesalahpahaman. Ketika kita tidak jelas tentang kata-kata dan maknanya, kita akan mendapatkan tatapan, ekspresi bingung dan bimbang. Aturan yang baik dibuat untuk mengingat bahwa itu adalah kewajiban pembicara adalah untuk berbicara yang dapat dipahami. Pemimpin yang dihormati selalu bertanggung jawab pada pesan yang mereka sampaikan, memastikan pesan mereka dipahami daripada mengharapkan pendengar untuk menguraikan makna Berikut adalah tiga tips untuk membantu Anda menyusun pesan yang lebih baik, sehingga mengurangi kesalahpahaman: ~. Mengatakan apa yang Anda maksud: Kedengarannya mudah, ya? Mengatakan apa yang Anda maksud lebih baik daripada memilih kata-kata Anda dan menyatakan. Kata-kata, setelah semuanya, memiliki tiga maksud: apa maksudmu, apa yang pendengar pikirkan tentang maksud anda dan definisi secara kamus Membuat pendengar mempunyai persepsi yang sama dengan pembicara adalah puncak kesuksesan setiap pembicara. Satu hal yang harus diperjelas saat mengatakan maksud anda adalah memikirkan apa yang anda katakan dari sudut pandang pendengar. Pemilihan bahasa tergantung pada pembicara asalkan sesuai dengan pesan dan maksud yang akan disampaikan. Hal ini lebih baik daripada memilih kata-kata yang membuat pendengar harus berpikir keras untuk memahami apa yang kita katakan ~. Maksudkanlah apa yang anda katakan. Dalam memaksudkan apa yang anda katakan, anda harus sangat tegas dan terarah dalam mengkomunikasikan pesan yang akan disampaikan. Jika pesan anda hanya seperti omongan tentang topik tersebut, anda akan menyesatkan pendengar. Jika anda tidak bermaksud mengatakan sesuatu, lebih baik untuk tetap diam, supaya tidak terjadi kesalahan audience menangkap maksud dari pesan yang akan disampaikan. ~. Gambarkan atau peragakan pesan anda. Sekali anda mengutarakan maksud anda dan memaksudkan apa yang anda utarakan, anda akan membawa pendengar selangkah lebih mendekat kepada maksud dari pesan tersebut. Cara termudah untuk melakukannya adalah dengan kata yang deskriptif dan contoh-contoh yang memperjelas pesan. Kata-kata deskriptif tidak selalu kata-kata yang besar, dan mereka harus digunakan untuk membuat pesan anda lebih ringkas, daripada digunakan untuk memamerkan kosa kata Anda. Berpikir dari perbedaan dalam pesan yang menggunakan istilah-istilah ini: minuman, minuman dingin, dan minuman es dingin. Lihatlah bagaimana seluk-beluk kata-kata dibuat untuk memperjelas sebuah pesan. Menggunakan contoh atau ilustrasi lebih lanjut menjelaskan pesan Anda, lagi mencegah kebingungan dan kesalahpahaman. Menggunakan contoh dari paragraf terakhir, kita dapat mengatakan " saya menginginkan sesuatu untuk diminum, air dingin, dalam gelas yang besar ditambah dengan es". Sementara tiga langkah ini mungkin sedikit canggung dan sulit, saat kita mengaplikasikan tiga konsep diatas untuk keseharian berkomunikasi, kita akan segera melihat seberapa cepat keahlian komunikasi kita meningkat. Hal ini benar, bahwa komunikasi adalah kemampuan yang akan meningkat dengan latihan yang terus menerus.

Rabu, 04 April 2012

ITP dalam Kehamilan

Idiopatik Trombositipenia Purpura ( ITP)
Idiopatik Trombositipenia Purpura ( ITP) adalah kelainan hematologis dimana ditemukan adanya penurunan jumlah trombosis di bawah normal ( trombositopenia), dengan disertai manifestasi klinis berupa perdarahan di kulit (purpura) dan kadang disertai manifestasi perdarahan lain (misal epistaksis) tanpa ditemukan sebab sistemik atau toksisitas yang jelas. ITP merupakan proses autoimun. 6
Epidemiologi
Di Amerika Serikat kasus ITP dalam kehamilan meliputi 1-2 kasus per 1000 kehamilan. ITP kadang terdiagnosa selama kehamilan, tetapi sebagian besar kasus telah terdiagnosa sebelum kehamilan, dimana wanita telah memiliki riwayat ITP. Di Finlandia prevalensi ITP dalam kehamilan juga mencapai 1.8 kasus dari 1000 kehamilan, sedangkan untuk prevalensi dunia sampai sekarang belum ada data yang adekuat. ITP meliputi 3% kasus trombositopenia pada wanita melahirkan. 1.7.9
ITP dapat terjadi pada semua ras, dan terutama menyerang wanita dengan ratio 3:1. ITP seringkali terdiagnosa pada usia reproduksi terutama decade 2-3 (usia remaja dan dewasa muda). 4.7
Risiko ITP pada kehamilan terutama adalah terjadinya perdarahan, terutama bila kadar trombosit < 20.000/mL. Akan tetapi di Amerika sampai sekarang belum dilaporkan adanya kasus kematian pada pasien ITP yang hamil selama 20 tahun terakhir, dengan morbiditas minimal bila diberikan terapi yang adekuat selama kehamilan dan persalinan. Adapun risiko terjadinya trombositopenia neonatal juga jarang terjadi kecuali pada kasus dengan splenektomi. 7.1 Patofisiologi Trombositopenia pada ITP merupakan proses autoimun dimana terjadi perusakan trombosit yang dimediasi oleh autoantibodi antitrombosit yang terikat pada antigen permukaan sel. Trombosit yang telah memiliki kompleks antigen antibodi ini kemudian akan dihancurkan oleh sistem retikuloendotelial. Autoantibodi antitrombosit tersebut dapat melewati sawar darah plasenta, sehingga dapat mempengaruhi ibu dan janinnya. 1.7 Diagnosis Idiopatik Trombositopenia Purpura adalah diagnosis eksklusi, yaitu diagnosis setelah diagnosis diferensial lain telah tersingkirkan. Idiopatik trombositopenia purpura sendiri ditegakkan bila ditemukan antara lain adanya purpura pada kulit, uji tourniquete positif, jumlah trombosit kurang dari 100.000/mL, adanya perpanjangan masa perdarahan, waktu pembekuan, serta gangguan koagulasi lainnya, dengan jumlah megakariosit dalam sumsum tulang lebih banyak, dengan tanpa ditemukan adanya kelainan sistemik maupun toksisitas obat atau racun, dan tidak ditemukan pula splenomegali. Lebih dari 80% kasus ITP berhubungan dengan antibodi antiplatelet, tetapi adanya antibodi antiplatelet ini bukan merupakan kriteria diagnosis untuk ITP. 7.11 ITP juga bisa terlihat dan terdiagnosa pada saat kehamilan. Karena sangat sulit membedakan diagnosis antara ITP dan trombositopenia gestational Bahkan dengan pemeriksaan antibodi antitrombosit, kecuali bila terdapat penurunan trombosit yang drastik tanpa ditemukan penyebab lain untuk trombositopenia. pun tidak. ITP ringan sampai sedang merupakan kondisi yang sering ditemui pada akhir kehamilan, tanpa ditemui manifestasi klinis yang berarti. Akan tetapi untuk mendiagnosis ITP hendaknya dilakukan pemeriksaan dan evaluasi ulang post partum. 7.8.11 Klasifikasi Berdasar derajat trombositopenia, Idiopatik Trombositopenia Purpura (ITP) dapat dibagi menjadi 7..10 : 1. Ringan bila kadar trombosit dalam darah > 50.000/mL, dan berhubungan dengan risiko perdarahan bila terjadi trauma.
2. Sedang adalah trombositopenia dengan kadar 10-50.000/mL, dapat menyebabkan perdarahan spontan, tetapi biasanya tidak serius dan tidak begitu banyak.
3. Berat bila kadar trombosit < 10.000/mL Perdarahan massif spontan dapat terjadi. Penatalaksanaan Penatalaksanaan ITP harus dilakukan menyeluruh dengan melibatkan wanita hamil dan keluarga. Terapi dapat berupa terapi medikamentosa dan terapi pembedahan. Terapi medikamentoda merupakan terapi jangka panjang dengan efek samping yang harus dimonitor dengan baik terutama pada kehamilan sehingga tidak terjadi efek yang merugikan ibu maupun janinnya. Antenatal Care yang baik dan teratur, dengan pemeriksaan darah rutin, disertai kepatuhan ibu serta ketelitian dokter dan tenaga kesehatan akan memberikan hasil terapi yang optimal. 3. Medikamentosa Terapi medikamentosa terutama ditujukan untuk menekan proses imunologis yang terjadi ndalam tubuh serta mengatasi/mengkoreksi jumlah trombosit bila terjadi perdarahan atau defisiensi hebat. 3.6.7. a. Kortikosteroid Terapi utama ITP adalah kortikosteroid, immunoglobulin intravena (IVIG), dan splenectomy. Masib terdapat kontroversi mengenai efek kortikosteroid terutama terhadap terjadinya malformasi kongenital. Akan tetapi steroid memiliki efek samping yang cukup membahayakan antara lain hiperglikemia, hipertensi, dan osteoporosis. Tetapi sampai saat ini pemberian prednisolon dengan dosis 1mg/kg/hari masih merupakan obat lini pertama untuk ITP yang direkomendasikan, akan tetapi dalam penggunaan jangka pendek. Penggunaan ini dapat ditappering off setelah terjadi respon positif. Dosis steroid tinggi dapat diberikan lagi pada minggu-minggu akhir mendekati persalinan. Kortikosteroid lain yang digunakan adalah dexamethasone 40mg/hari selama 4 bulan. b. Immunoglobulin Alternatif lain adalah pemderian IVIG dengan dosis 0.4 g/kg/hari selamalimahari. Terapi ini akan menyebabkan remisi pada sekitar 75% pasien, dan dapat berlangsung selama tiga sampai empat minggu. Imunoglobulin tersebut dapat menembus sawar plasenta akan berefek yang sama dalam darah janin, yaitu dengan memblokade reseptor Fc dalam sistem makrofag monosit. Karena kadang ditemui reaksi alergi, maka sebaiknya penggunaan IVIG hanya diberikan pada kasus yang serius, misalnya bila sudah terjadi perdarahan, dan tidak diberikan sebagai profilaksis bila sudah mendekati persalinan. c. Anti D Intra Vena Anti D intra vena sudah mulai digunakan untuk terapi ITP pada anak dan dewasa, dimana anak menunjukkan respon yang lebih baik daripada anak, dimana 70% menunjukkan respon positif. Dosis yang direkomendasikan adalah 25-200 mcg/kg/hari. Akan tetapi pemakaian Anti D intra vena pada kehamilan sampai sekarang belum ada data mengenai efektivitas dan keamanannya. Karena adanya kekhawatiran terjadinya hemolisis janin karena molekul IgG yang melewati sawar plasenta. d. Tranfusi trombosit Sebaiknya hanya dilakukan sebagai terapi dan bukan profilaksis. Karena adanya antibodi antiplatelet maternal menyebabkan destruksi trombosit yang ditranfusikan, sehingga terjadi penurunan trombosit dengan cepat. Tranfusi trombosit hanya direkomendasikan bila jumlah trombosit < 10.000/mL atau terjadi perdarahan maternal. Biasanya diberikan 6-10 unit trombosit bila akan dilakukan section cesaria pada wanita dengan jumlah trombosit < 50.000/mL untuk mencegah perdarahan intra atau post partum. e. Immunosupresan Obat-obatan lain yang juga sering digunakan dalam kasus ITP antara lain imunosupresan seperti siklofosfamid, vincristine, danazole, dan siklosporon. Akan tetapi tidak digunakan untuk kehamilan karena dianggap memiliki efek teratogenik. 2. Pembedahan6.7 Splenectomi merupakan terapi paling permanen untuk ITP. Akan tetapi biasanya tidak dilakukan sebelum diberikan terapi dengan kortikosteroid, atau setelah terapi kortikosteroid tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Akan tetapi, dilakukannya splenektomi yang merupakan operasi besar selama kehamilan juga memiliki efek samping yang serius, terutama bagi janin, dan juga bagi ibu, misalnya perdarahan, memperberat anemia, aborsi, dan persalinan premature. Splenektomi selama kehamilan masih merupakan kontroversi. Sampai saat ini belum diperoleh data yang cukup mengenai terapi lain untuk ITP dalam kehamilan. Komplikasi Komplikasi akibat ITP sebagian besar merupakan akibat trombositopenia serta masuknya autoantibodi antitrombosit dari ibu yang dapat menembus sawar plasenta hingga beredar dalam sirkulasi janin, sehingga menyebabkan trombositopenia janin bahkan neonatus. 3.4.7.9.10 Komplikasi maternal Komplikasi ibu yang paling sering terjadi adalah perdarahan, baik perdarahan antepartum, perdarahan intra partum, maupun perdarahan post partum. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan metode persalinan tidak memiliki korelasi langsung dengan risiko perdarahan asal dilakukan dengan penanganan tepat. 3.7 Hitung trombosit > 50.000/mL masih aman untuk persalinan, bahkan beberapa ahli mengatakan sampai level 30-50.000/mL masih dapat melahirkan dengan normal tanpa komplikasi. Wanita dengan ITP yang mengalami perdarahan intra-partum memiliki jumlah trombosit < 30.000/mL. Penatalaksanaan ITP dalam kehamilan haruslah mengacu pada hal tersebut. 7.10
Tidak direkomendasikan untuk melakukan pengambilan sampling darah janin untuk mengetahui hitung trombosit janin. Akan tetapi bila data tersebut sudah tersedia, maka dianjurkan untuk melakukan sectio cesaria bila kadar trombosit janin < 20.000/mL. Riwayat melahirkan bayi dengan jumlah trombosit yang rendah (<50.000/mL) atau bayi yang mengalami perdarahan intracranial juga bias dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Beberapa tahun terakhir wanita dengan ITP lebih banyak yang menjalani sectio cesaria ( 77%), akan tetapi hendaknya pemilihan metode persalinan lebih dikarenakan indikasi obstetric dan bukan karena ITP maternal. 7.10
Komplikasi lain yang harus diperhatikan selama persalinan adalah TTP ( Trombotik Trombositopenik Purpura) juga merupakan hal yang patut diwaspadai dan dimonitor dengan baik, walaupun insidennya jarang, akan tetapi memerlukan terapi yang lebih agresif. Karena pada TTP terbentuk trombi yang dapat menyebabkan iskemi, selain juga menurunkan jumlah trombosit dalam sirkulasi. TTP memiliki tingkat mortalitas yang tinggi baik untuk ibu (44%) atau janin (80%). Sebagian besar TTP terjadi antepartum, dan hanya 11% yang terjadi post partum (11%).7.10
Komplikasi fetal dan neonatal
Risiko trombositopenia fetal pada bayi yang lahir dari ibu yang menderita ITP sekitar 10%, dimana 1/3 nya mengalami komplikasi perdarahan. Hitung trombosit mungkin akan turun setelah persalinan, dan biasanya akan membaik dalam 2 minggu. Dapat terjadi perdarahan spontan post natal. 7
Insiden terjadinya trombositopenia neonatal (NAIT – Neonatal Alloimmune Thrombocytopenia ) berkisar 12%. Perdarahan intracranial neonatus jarang terjadi ( sekitar 1%), dan tidak bergantung dari metode persalinan. Persalinan per vaginam tidak terbukti menyebabkan perdarahan intracranial. Sectio cesaria sebaiknya hanya dilakukan atas indikasi obstetric. 7.10
Rendahnya jumlah trombosit neonatus selain karena factor intrauterine seringkali juga disebabkan IgG antitrombosit ibu yang berada pada air susu yang diminum oleh neonatus. Trombositopenia ini dapat menyebabkan perdarahan intracranial neonatus post partum. Sangatlah penting untuk memberitahu dokter anak yang merawat pasien dimana ibunya mengalami ITP tentang kemungkinan terjadinya trombositopenia. Akan tetapi pemberian ASI tetap boleh dilakukan hanya perlu dilakukan penatalaksanaan yang tepat dan monitor dengan baik. 4.7.10
Wanita dengan ITP memiliki risiko lebih besar untuk melahirkan neonatus yang mengalami trombositopenia. Dimana 10% diantara neonatus tersebut memiliki hitung trombosit <50.000/mL, dan 4% < 20.000/mL. Adanya antibodi antiplatelet dalam sirkulasi fetomaternal memungkinkan hal ini. IgG menembus sawar plasenta dan menempel pada epitop trombosit janin, sehingga dihancurkan oleh sistem retikuloendotelial janin. Akan tetapi walaupun kejadian trombositopenia neonatus memang lebih banyak pada wanita ITP, belum ada korelasi yang jelas mengenai hal tersebut. 7.10
Dari beberapa penelitian terlihat bahwa 10 dari 11 bayi yang lahir dari ibu yang bukan penderita ITP juga memiliki antibodi antiplatelet dalam sirkulasinya, sehingga mengalami trombositopenia. Ibu dari bayi-bayi tersebut ternyata setelah dilakukan pemeriksaan post partum memiliki siklus hidup trombosit lebih pendek, sehingga didiagnosa dengan ITP ringan. 2.
Prognosis
Bila tanpa komplikasi yang berat, prognosis untuk ibu, janin dan persalinan baik, terutama bila trombositopenia yang terjadi ringan atau sedang. Sampai saat ini sejak 20 tahun yang lalu di Amerika belum pernah ditemui kematian maternal akibat ITP. Komplikasi yang dapat ditangani dengan baik juga dapat memberikan hasil yang memuaskan. Adanya komplikasi TTP akan memperburuk prognosis, akan tetapi kejadiannya sangat jarang dan dengan terapi adekuat menunjukkan hasil yang baik. 3.
PENUTUP
ITP ( Idiopatik Trombositopenia Purpura) merupakan kondisi yang sering ditemui pada wanita usia reproduksi, sehingga kejadiannya pada kehamilan juga cukup tinggi yaitu hingga 1-2 kasus dalam 1000 kehamilan. Kehamilan dan ITP saling mempengaruhi satu sama lain. ITP merupakan kondisi trombositopenia yang dapat diperberat dengan adanya kehamilan. Wanita yang sebelum hamil memiliki jumlah trombosit yang normal secara fisiologis mengalami penurunan jumlah trombosit selama kehamilannya (trombositopenia gestational). Akan tetapi penurunan jumlah trombosit hingga < 50.000/mL (beberapa ahli menyebutkan <70.000/mL) harus dimonitor dengan baik, karena kemungkinan merupakan kasus ITP, dan difollow up hingga post partum, selain untuk penanganan juga untuk memastikan diagnosis.
Sebaliknya pasien ITP yang hamil juga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami perdarahan baik antenatal, intra partum maupun post partum. ITP juga dapat menyebabkan trombositopenia fetal dan neonatal dengan segala akibatnya, baik perdarahan maupun gangguan hemodinamik lain. Adanya trombositopenia fetal maupun neonatal ini diakibatkan antibodi antitrombosit ibu yang dapat melewati sawar darah plasenta dan air susu.
Setelah ditegakkan diagnosis ITP, Penatalaksanaan ITP dalam kehamilan memerlukan pengetahuan yang cukup mengenai penyakit, terapi dan efek sampingnya terhadap ibu dan janin, serta kondisi ibu dengan janin itu sendiri. Pengobatan medikamentosa dengan steroid masih merupakan pilihan pertama, dan dilakukan splenektomi bila memang terapi steroid tidak berhasil. Antenatal care yang teratur dan cermat sangat diperlukan untuk memonitor perkembangan ibu serta janin. Metode persalinan hendaknya dipilih berdasar indikasi obstetrik, mengingat tidak ada perbedaan komplikasi antara persalinan per vaginam dan perabdominam. Dengan penatalaksanaan yang baik dan adekuat diikuti monitor dan evaluasi berkala, maka akan memberikan hasil optimal baik bagi ibu maupun janin.
Source :
http://vitriwidyaningsih.wordpress.com/2012/02/02/itp-dalam-kehamilan/#comment-29

Senin, 05 Maret 2012

Managing time and life (from Harold L Taylor)

1. Avoid commettees. They tend to substitute talking for doing
2. Love people and use things, Don't ove things or you may end up using people
3. Take frequent breaks; the worker is always more important than the work
4. The pen may be mightier than the sword; but voice-activated software is faster
5. Doing something difficult today will make tomorow's burdens lighter

On time management lessons learned from experience :
1. It is more important to live time than to save time
2. Live is not measured in hours, minutes and second, but activities, events and happenings.
3. Don't be so obsessed with saving time that you overlook the reason for saving it.
4. If you are not careful, endlessly crossing off an item on a"to do" list can become the goal rather than the means.
5. Don't major in minor. lumps in your gravy are not the same as lumps in your breast.

SWORDS - Time management by Harold L Taylor

1. S for specific. Be as detailed as possible when describing what you want to accomplish.
2. W for written. Putting goals in writing tells your brain you are serious about your commitments.
3. O is for order. List your goals in order of importance and work on them accordingly.
4. R is for realistic. Consider the time, money and resources needed. Setting sights to high gives an excuse to quit.
5. D is for deadline. Deadlines add urgency and tell how much time must be scheduled each week.
6. S is for schedule. Achievement doesn't happen by chance. Schedule time to actually work on your goals.

Rabu, 28 Desember 2011

5 Hal umum yang dapat membuang energi positif

Dalam diri kita terdapat beberapa aspek antara lain : mental, emosi, jasmani dan rohani. Masing-masing aspek mempunyai energi dengan jumlah terbatas. Jika kita tidak merencanakan untuk menggunakannya dengan baik, energi tersebut akan terbuang dengan sia-sia. Ada 5 hal yang biasa orang lakukan untuk membuang energi setiap hari :
Meringankan luka masa lalu merupakan hal yang sering kita buat tanpa kita sadari, dan hal tersebut sebenarnya membutuhkan energi yang besar. Setiap kali kita mengingat luka masa lalu, energi terbuang dengan sia sia. Pikiran kita mencegah untuk memindahkannya dari kehidupan kita, padahal memikirkannya kembali berarti membawa seluruh perasaan kembali pada kita. Luka yang dirasakan kembali yang akhirnya membuat kita sulit untuk melepaskannya.
Fokus pada impian yang tak terwujud merupakan salah satu hal yang membuang waktu dan energi. Ketika kita tetap memikirkan tentang apa yang telah terjadi dan menyalahkan yang telah terjadi saat ini dan yang tidak terjadi di masa lalu, dan membuat seolah-olah kita terperosok ke dalam kesalahan. Selama kita menempatkan pikiran dan emosi kita dengan cara seperti tersebut, kita tidak akan pernah dapat membuat rencana untuk dapat melanjutkan tujuan kita.
Kekhawatiran pada masa depan memerlukan energi yang besar pula. Selama kita selalu khawatir tentang hal-hal yang diluar kendali kita, dan tentang hal yang mungkin tidak akan terjadi. Perlu diingat bahwa kita tidak dapat mengendalikan masa depan. Kita hanya bisa mempersiapkan kemungkinan dan strategi untuk menghadapinya. Buatlah cara untuk mengendalikan rasa takut, kemudian melangkah kedepan dan hancurkan rasa takut kita serta persiapkan cara untuk mengatasi hal-hal yang mungkin tidak dapat kita hindari.
Menyalahkan orang lain atas sesuatu yang terjadi pada kita adalah hal favorit yang sering kita lakukan untuk membuang energi. Menyalahkan mungkin merupakan manuver diri kita yang sebenarnya membuat kita akan lebih buruk dari keadaan sebenarnya. Penting bagi kita untuk menerima tanggungjawab sepenuhnya akan apa yang terjadi dalam kehidupan kita saat ini, walaupun keadaan sebenarnya adalah tidak murni kesalahan kita ataupun seandainya kita memang adalah korban dari orang lain.
Menjatuhkan sendiri emosi kita adalah kebanyakan cara untuk membuang energi, dengan cara mengatai diri sendiri "saya bodoh", "saya tidak percaya bagaimana saya bisa melakukan kesalahan itu" dan banyak hal negatif lain yang kita buat sebenarnya menghindarkan kita mengambil resiko terus mengejar tujuan.
Masing-masing perilaku diatas dikonsumsi oleh mental, emosional, jasmani dan rohani kita. Yang berarti kita tidak mampu membuat langkah-langkah positif dalam hidup kita. Jika kita terus melakukannya, kita akan kehabisan waktu dan energi yang kita buang dengan sia-sia yang seharusnya kita gunakan untuk membangun mimpi dan cita-cita.

Jumat, 23 Desember 2011

Beberapa hal yang dapat membuat kita berpikir positif

Berpikir positif tidak selalu mudah, terutama ketika kita menghadapi masa-masa sulit. Kesehatan yang buruk, kehilangan jabatan, masalah keluarga, merupakan hal yang banyak dihadapi dan terkadang menyulitkan kita untuk berpikir positif. Dibawah ini ada beberapa teknik yang dianjurkan yang mungkin dapat kita terapkan sehingga kita tetap dapat berpikir positif :
1.Belajar, Membaca dan mendengar setiap hari. Usahakan setiap hari selepas bangun tidur, kita membaca hal-hal yang positif, mendengarkan hal-hal yang dapat memotivasi dan mencari tantangan dan perjalanan yang baru. Banyak sumber – sumber yang menawarkan nasehat dan membantu kita untuk belajar mengembangkan pemikiran positif.
2.Optimis. Martin Seligman, seorang psikolog menyebutkan bahwa orang-orang yang berpikir lebih positif dapat mengembangkan kemampuan menghentikan pemikiran negative. Jangan pernah mengatakan “tidak ada jalan keluar”, atau “sialnya aku”. Karena orang-orang yang berpikir positif selalu berusaha mencari jalan keluar untuk setiap permasalahan. Mereka tidak terseret pada pemikiran ke arang yang buruk. Kehidupan ibarat sebuah gelas yang berisi setengah air. Selalu ada hari-hari yang lebih baik. Kepercayaan dan harapan adalah setengah dari pertempuran dalam kehidupan.
3.Rasa syukur. Rasa syukur dapat membuka kecantikan, ketenangan dan mengembangkan pikiran. Rasa syukur juga memberikan kenyamanan dengan selalu melihat sisi baik dari semua yang kita dapatkan. Jika kita kehilangan banyak dari yang kita miliki, setidaknya kita dapat bersyukur atas apa yang masih dapat kita kenakan. Selalu ada hal yang dapat kita syukuri dan selalu aka nada seseorang yang dapat kita berikan ucapan terimakasih atas hal-hal yang mempengaruhi kehidupan kita.
4.Bertanggungjawab, dan bukan menyalahkan. Menyadari dan menerima semua hal, baik kesalahan yang telah kita perbuat, yang bahkan membuat kita terperosok di dalamnya. Kita bertanggung jawab untuk keluar dari setiap permasalahan yang ada. Permasalahan selalu ada di sekitar kita, tetapi kita akan dapat mengendalikan hidup kita lagi selama kita merasa sepenuhnya bertanggungjawab atas kehidupan kita sendiri.
5.Jangan mengikuti emosi negative yang mendatangi kita. Disaat kita dihajar oleh permasalahan, selalu tanamkan harapan dalam pikiran kita. Coba berpikir kebelakang, menganalisa apa yang salah, membuat rencana perubahan untuk melanjutkan kehidupan. Dunia mungkin tidak adi dan situasi kita mungkin seolah-olah akan seperti saat ini selamanya, tetapi setiap pengalaman akan membawa kita untuk menjadi orang yang lebih bijaksana, setiap kesulitan akan membawa kita pada kesuksesan yang lebih besar. Sesuatu hal yang sama terkadang adalah kesempatan yang tersembunyi saat kita mambu melihat kebelakang dan mempelajari kesalahan.
6.Ketekunan. Banyak orang tidak dapat meraih sukses dan kebahagiaan karena mereka menyerah setelah mencoba berkali-kali atau saat mengetahui ada permasalahan. Terkadang kita perlu mencoba dua kali, puluhan kali sebelum kita mencapai tujuan utama kita. Sukses hanyalah selangkah, atau mungkin beberapa langkah didepan kita. Jadi jangan pernah menyerah.

"dont ever give up, because we'll never know whats the future bring until we through it"

Kamis, 22 Desember 2011

MADAGASCAR and the FUTURE of the NUSANTARIAN WORLD ( I love Indonesia suddenly)

At the dawn of the third millennium, the world seems to look for a new direction. The development of globalization is threatening the very foundation of the old empires based upon nation-state centralism. Oppositely, new alliances based on more natural affinities, especially ethnic-based affinities which had been neglected or even prohibited, are now taking place. On the one hand, it is the fear of depersonalization that ignites the rehabilitation of one's ancestral identities. On the other hand, the need to join with competent partners to face the present frontierless world requires a connection with those sharing the same fundamental interests. From now on, as distances constitute little barrier to exchanges, the prospect of new alliance can be invoked.
One immediately does realize how much this new situation can be advantageous to the Nusantarian World. Until now, direct communications between the various countries belonging to this human group, spreading throughout two oceans over thousands years, were hindered by the distances. Moreover, during the last centuries, the European colonization and its aftermath discouraged us from pursuing such unity. For each newly independent country, the consolidation of national unity was its prime concerns.

In order to better define the role and the significance of Madagascar within the future of the nusantarian world, it is necessary to begin by recounting some of the major features of that world.


The Nusantarian Motherland

Among the major ethnolinguistic groups in the world, the nusantarian family (also called "Malayo-Polynesian" or "Austronesian" by western authors) undeniably occupied the largest geographical territory prior the modern era. From east to west, this vast territory covered the area from Rapa-nui (Easter Island) to Madagascar, approximately 60% the circumference of the earth. From north to south, it included the island of Taiwan (Pekan, for the Nusantarian natives), the archipelago of Hawaii (from "Hava-iki" or "Little Java", to recollect the ancestral homeland of the Polynesian), and New Zealand (Aotearoa in Maori language). Beyond this heartland, other regions were frequented by Nusantarians navigators, including the major part of the Pacific Ocean (to South America) and the Indonesian Ocean, as far as East Africa. [1]

Today, there are approximately 300 million Nusantarians. Their communities are traditionally present in 34 officially recognized countries in Southeast Asia (including Taiwan and Hainan where the Cam Utsat people live), Oceania, and the Indonesian Ocean.

In recent years, many authors concluded that the Nusantarians originated from the present coastal area of eastern China (well before the rise of the Chinese Empire).[2] Understandably, it was by seafaring, approximately 6,000 or 7,000 years ago, that our ancestors began to slowly occupy their historical territory. In so doing, they precociously mastered an extraordinary technique of navigation. Indeed from the beginning of our era, it is known from testimonies found in Chinese texts that the Nusantarians of Southeast Asia were using ships (the Chinese *b'ak, related to the *bangkah of Melayu) capable of transporting several hundred of tons of goods and hundreds (or even a thousand) passengers.[3] That is hardly surprising if we know that in Oceania the big double canoes (waka or pahi, corresponding to bagan and to ancient bandung of Indonesia), although a lot less equipped in terms of tools, were capable of transporting together up to 500 persons.[4]

Subsequent to this common origin, the Nusantarian heritage is characterized by three affinities, namely linguistic, cultural and racial.

Throughout the Nusantarian domain, the basic vocabulary and many typologic resemblances are preserved in all languages, among which three major sub-sections can be distinguished: a) the archaic language group of Taiwan; b) those of the western nusantarian world and countries of Southeast Asia, from Madagascar to the western part of Micronesia (Marianas, Guam and Belau/Palau Islands); c) those of the oriental nusantarian part, including the whole of Polynesia and the major part of the Melanesia.[5]

The Nusantarian civilization is characterized by many common features found in their social organization, technology, beliefs and artistic expressions. Finally, from the anthropological point of view, the majority of the Nusantarians (the Melanesians excepted) are sharing the same human form, characterized by the "classic Melayu" model : in which the skull is mesocephalic or moderately brachycephalic, the brown skin color or sawo matang, the wavy hair, less or not at all slit eyes, etc.[6]

Taking account of these elements, we should re-appraise the status and the importance of Madagascar in the Nusantarian domain.


Madagascar, a part of Southeast Asian history

Within the Nusantarian World, Madagascar stands apart for many reasons. First, geographically, this island is the farthest from any other Nusantarian territory. Its closest neighbors, the islands around Sumatra, are more than 6,000 km distant. It is thus the only part situated in the western Indonesian Ocean, close to the African continent. Also by its size, Madagascar is relatively large. Among all the Nusantarian islands, it is second only to Kalimantan. However, its most surprising originality is found in its cultural and historical aspect.

In all likelihood, the island was discovered in the first centuries of the common era by seafarers from central Indonesia, related to the ancestors of the present people of Southeast Kalimantan.[7] One wonders what drove them so far to the west. In the current state of knowledge, there is obviously no answer to that question. However, it is likely that those people were not the only Nusantarians who frequented the western part of the Indonesian Ocean during that era. In fact, the Melayu traders (namely, the Melayu speaking Nusantarians kingdoms, the most prominent being one named "Funan" by Chinese authors) traded between the Sea of China and the coastal countries of the Indonesian Ocean, as far as the Roman empire, to the northwest.[8] And probably, presence of Melayu in that region might have contributed to the process of hinduization of Southeast Asia.

While the Merina's ancestors slowly undertook the exploration and colonization of Madagascar, others Nusantarians traded actively with the African coasts and the Middle East. The items traded were mostly spices, ivory, cowries, pearls, hides, slaves, and perhaps silk. It is highly probable (as referenced in some Arabic texts) that Melayu trading posts were established on the coasts of Africa.[9]

The presence of Melayu in western Indonesian Ocean began to decline from the 8th century under the pressure of the emerging Muslim competition. However, by the 10th century, the Malays tried to reconquer the African coasts with an enormous expedition (Arabic texts talk about a thousand ships) but without success.[10] Since then, they had ceased to frequent the region. It should be mentioned that even their old maritime hegemony in Southeastern Asia - represented at that time by the empire of Srivijaya - was then contested not only by the new power of the southern Indians of Chola, but also, by a growing Chinese power. Concurrently, the Merina's ancestors began their migration to the highlands of Madagascar to avoid the threat of the Islamized emigrants and their numerous African slaves who rapidly took control of the northern and eastern part of Madagascar. In respect to several traditions, their prime motive for leaving the coastal areas was their refusal to mingle with their new neighbors.[11]

It was from that time that the Merina, as a people completely isolated from Southeast Asia, started on a different historial path. Meanwhile, some Nusantarians, especially the Bugis - as mentionned in the epic of Sawerigading of La Galigo -, might have continued to sporadically visit the region.[12] Also by the 13th century, the Melayu of Tambralinga (present southern Thailand) organized a certain number of expeditions to the Southern India and to Ceylan for reasons related to Buddhism.[13] But to our knowledge, there is no indication that any of those late nusantarian expeditions might have influenced the course of Madagascar's history.[14]

However, during the entire first millennium, the history of Madagascar is simply integrated with the presence of Southern Asian Nusantarians in the western part of the Indonesian Ocean. Therefore, it is difficult to isolate that island. Perhaps in the future, the progress in archaeological research and the advance of cultural and linguistic studies will help us to better understand that past.


The importance of Madagascar in the future of the Nusantarian World

The exceptional importance of Madagascar in the history of ancient nusantarian navigation in the Indonesian Ocean is perfectly known here. Moreover, it remind us that for 4,000 to 5,000 years, untill around the 10th century, the nusantarian peoples were the greatest navigators of the world. It is true that similars achievement can be attested to the peoples of the Oceania, but, as far as it concerns the Southeast Asia, Madagascar is ethnologically and historically closer to them. Oceania indeed belongs to the prehistory of Southeast Asia, while Madagascar is an integral part of its "old", or more exactly, pre-modern history; from the glorious period prior the Islamisation, the arrival of Chinese emigrants and the influx of European colonizers. Furthermore, unlike the Indo-Javanese culture for example, the civilization of Madagascar developed out of the sole ethnic ingenuity of the Nusantarians, without any direct foreign influence. Even if words of sanskrit origin are found in Madagascar's native languages, they all seem to have been borrowed through the old Malay.[15] Similarly, the Arab-African influence on the Merina people is, not only very limited, but also considered as a corruptive rather than formative late addition.

In this regard, Madagascar constitutes one of the best examples demonstrating the dynamism and the potentiality of traditional nusantarian civilization. Even if the countries of Southeast Asia had not borrowed from foreign cultures, they would have been quite able to achieve extraordinary status. To us, it is significant that the king Andrianampoinimerina (who ruled from 1783 to 1809), was a pure bearer of the traditional Merina civilization. He no doubt could be considered as one of the greatest nusantarian sovereigns of all time.[16]

In conclusion, the rediscovery of Madagascar represents to the South Asia nusantarian countries a kind of an encounter with their own history. The look of a Merina should remind them how great navigators were their ancestors, and how they were proud of their identity that they really did matter to preserve it above anything else.[17]

But the most startling is that besides recalling the Nusantarians' past, Madagascar is holding great promises for their future. As already pre-announced by the creation of the APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation), indicators suggest that the Pacific basin will be the real economic heart of our planet, and also, to a larger extent, its cultural and political heart. In these conditions, those countries occupying the most propitious locations are suceptible to play highly decisive roles.

From now on, it is for the interests of the Nusantarian countries of Southeast Asia to contemplate themselves, not as being on the periphery of Asia and the Pacific Ocean, but as in the very heart of the oceanic domain. The Pacific Ocean itself is not an empty space, but a crossroad and a field of expansion for the peoples from its bordering continents, a territory for self-development for the peoples who occupied it for millennia, and who beforehand were Nusantarians. So, it is timely that Melayu, Javanese and Tagalog peoples, among others, reassert their real attributes, as representatives of the Nusantarians, the Islands people, traditional masters of the Ocean, and not just a mere variety of "non-typical" and marginal Asians. For that purpose, they absolutely have to position themselves in regard to their own "peripheric surroundings", and also determine the boundaries of their actual inner dimensions.

For that matter and for their interest, the Nusantarians of Southeast Asia should integrate in their world vision as well as their political policy that the Merina, on the one hand, and the Micronesians and Polynesians, on the other hand, are in fact the extensions of their own identity.

These indeed are the peoples testifying their own history, especially the most authentic part of it. There is scant need to mention that for these "peripheral" Nusantarians, the new interest brought by their South Asian kin will finally help them to exit out of their isolation and to take control of their own destiny. Henceforth, with the support of their kin, they will no longer be considered as just small islanders, lost in the middle of the ocean. They will no longer be the coveted objects by those foreigners thinking only of taking advantage of their vulnerability, but a member of a vast community of peoples sharing the same ancestors, the same basic identity, and together, sharing the same hopes in planning their own future.

In other words, within that perspective, Madagascar somehow might also have within it the actual keys to the future of the Nusantarian world.


Andriantefinanahary & Yanariak (October, 1997)
source :http://users.cwnet.com/zaikabe/merina/index.htm